Kadang kala aku sering geli dan senyum sendiri(hehehe…, he-ri’heboh sendiri’…-)) ketika aku berpikir, repotnya jadi perempuan khususnya di negri yang kucinta ini. Bukan sekedar repot dengan berbagai kewajiban perempuan sesuai hegemoni sosial budaya yang ada. Tapi…, kondisi serba salah yang selalu dialami perempuan indonesia.

Dulu…, aku pernah mendengar cerita dari embah-embahku, suatu kondisi paradigma bahwa: perempuan ga perlu sekolah tinggi-tinggi, gak penting, yang penting bisa masak, bisa macak, dan bisa ngurus anak lan bapak….”.

Ternyata paradigma ini masih exist ditengah gempuran era teknologi informasi. Kok bisa ya….(hehehe….-P). Tapi…., sepertinya kok paradigma ini berevolusi, esensinya masih sama tapi dengan wajah yang berbeda: perempuan jaman sekarang harus pinter, harus bisa kerja cari duit sendiri dan mandiri. buat apa sekolah sampai sarjana kalo terus tidak bekerja dan dirumah saja.”.

Paradigma kedua ini nampaknya mendukung pendidikan seorang perempuan, tapi ternyata bersyarat. Syaratnya pun ndak masuk akal, boleh sekolah sarjana syaratnya harus kerja. Kalo nantinya ga kerja, buat apa sekolah sampai sarjana.

Buat aku, esensi kedua paradigma itu ’sami-mawon’. perempuan ga usah sekolah tinggi karna toh akhirnya di rumah. Kalo di rumah saja kenapa harus sekolah tinggi. Begitulah makna yang aku cerna dari paradigma itu. Seakan-akan, kalo seseorang, khususnya perempuan kerjanya hanya di rumah, ga perlu sekolah sampai sarjana.(hick…3x, kacian kan….,)

Lalu, bagaimana mungkin bangsa ini akan keluar dari krisis bangsa yang makin terpuruk, kalo ibu-ibu(baca: perempuan- perempuan) yang dirumah dan mendidik anaknya tidak boleh sekolah tinggi. Sedangkan perempuan-perempuan yang sekolah tinggi, justru sibuk bekerja diluar rumah daripada mendidik anaknya sendiri. Padahal, sekolah paling dini bagi seorang anak, adalah pendidikan dari seorang ibu.

Aku bukan manusia yang anti dengan keberadaan perempuan berkarier diluar rumah, hanya saja keprihatinanku pada hegemoni sosial budaya bangsa ini. “Mengapa perempuan yang bekerja diluar rumah boleh sekolah tinggi, sedangkan yang yang dirumah mengurus anak dinilai tidak perlu”. Mengapa terjadi diskriminasi hanya karna perbedaan tempat pengabdian seorang perempuan.

Apakah memang mengurus sebuah rumah tangga dan mendidik anak-anak sejak dini itu pekerjaan yang mudah dan spele, sehingga ndak perlu sekolah tinggi-tinggi?

Yuk, sama-sama rubah paradigma ini, dan semoga bangsa ini punya harapan masa depan yang lebih baik.-)


  1. widyani

    Memang repot hidup kalau mengikuti “kata orang”. Sekolah tinggi salah, tidak sekolah tinggi juga salah. Mungkin terbaik bagi perempuan adalah sekolah tinggi di bidang yang kerja bisa dilakukan di rumah dengan fleksibilitas waktu yang tinggi, sehingga bisa diatur manajemen kerja dengan manajemen ngurusi anak dan suami dengan harmonis. ini idealnya …. memang tidak semua orang bisa merealisasikan kondisi ideal ini. supaya hati tetep happy, menghadapi berbagai hal yang aneh-aneh … maka ingat firman Alloh saja bahwa “laki-laki dan perempuan yang beriman dan beramal sholeh akan dibalas sorga. Jadi tidak ada perbedaan gender di mata Alloh. Jadi kita para perempuan … niatkan sekolah tinggi, niatkan kerja keras kita untuk beribadah beramal sholeh dan minta gajinya pada Alloh swt. Tak usah dengarkan kata-kata orang yang tidak kondusif … bikin kepala jadi kopyor …. he .. he ..




Leave a Comment