Duka ku, dan Duka Bangsa Ini…


Awal tahun baru 2008, bangsa ini dikejutkan(atau mungkin tidak terkejut) oleh berita dari RSPP-Jakarta. Seseorang yang sudah pasti Putra Indonesia, meskipun masih tersisa kontroversi tentang jasa dan kepahlawanannya.

Namun bukan kontroversi Sang "The Smiling General" yang akan aku ungkapkan. Senin…, 21 Januari 2008, pukul 05.13…, Handphone istri ku berdering…., kemudian tak lama – tangis-hebat menjadi pembuka dari sejenak kesunyian subuh hari. "Innnalilahi wa innailahirojiun"…., Ayah-Istriku, yang juga kini menjadi ayahku juga, telah dijemput dengan manis oleh Khaliqnya. Beliau dengan gagah dan bahagia, mewariskan 4 orang putra, Dina Sofiana(yang kini menjadi istriku), David, Arrofi, Arrizal.

Sungguh bukan kontroversi lagi jasa Sang Ayah bagi ku dan keluarganya. Sang Ayah yang menahan sakit…., menyimpan duka…., tak sampai hati membuat panik keluarganya. Sakit Darah Tinggi yang telah ada sejak lama, tiba-tiba menjemput ruhnya dengan cepat, tanpa tanda-tanda.

Minggu, 22 Januari 2008 pukul 18.04…., istriku menerima telepon dari David, kabarnya singkat – "Mbak…., Bapak masuk rumah sakit, sekarang di UGD", setelah itu putus…., istriku coba mengkonfirmasi adiknya tapi tak juga tersambung. Sontak, kabar itu mengoncangkan hati istriku. Uraian air mata tak terbendung lagi…., duka pun menaungi keluarga kecil kami.

Ba’da isya, istriku berhasil menghubungi David. Kronologis yang kami dengar, Bapak kami setelah pulang kerja ba’da dzuhur, Beliau pamit ke Ibu akan pergi memancing bersama teman-temannya ditempat bisa. Kemudian setelah beberapa waktu duduk memancing, Beliau pamit mau ke kamar kecil pada teman-temannya. Seketika akan berdiri, Beliau tak kuat, dan akhirnya tak sadarkan diri. Teman-temanya langsung membawa Beliau ke rumah sakit terdekat. Karena informasi dari rumah sakit bahwa Bapak dalam kondisi kritis, maka Beliau dirujuk ke RS. Dr. Soetomo.

Dokter di RS tersebut kemudia menginformasikan bahwa Bapak dalam kondisi Perdarahan Otak akibat Darah Tinggi. Dokter menyaran operasi, namun juga khawatir karna kondisi Bapak yang kritis. Akhirnya Tim Dokter dan Keluarga bermusyawarah dan bersepakat untuk memberi obat pada Bapak agar kondisinya stabil kemudian setelah itu dioperasi. Namun….., ALLAH Sang Maha Bekehendak….., telah rindu pada Hamban-Nya, ALLAH menjemput Bapak, tak lama setelah upaya untuk menstabilkan kondisi Bapak.

Selamat Jalan Bapak-ku, Bapak-kami, Bapak yang Gagah dan Bahagia. Duka kami bukan karena engkau terlalu cepat pergi meninggalkan kami, Duka kami karena kami malu, belum sempat kami membalas jasa dan jerih payahmu. Kami yakin, Bapak lebih bahagia dan tenang disisi-Nya. Selamat Jalan Bapak….., Kami selalu mendo’akan mu…..,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s