Pernikahan: Ketika Konflik Itu Hadir


Buat pengunjung yang baru hadir, silahkan kunjungi: Pernikahan : Tak Selalu Hitam – Putih, oke…!!!
Ada ga ya, dunia pernikahan yang tak pernah mengalami konflik? Tentu jawabnya tidak, itu artinya, konflik dalam dunia pernikahan sesuatu hal yang manusiawi, selama tidak merusak wadah pernikahan itu sendiri. (gimana sih…., kalo konflik itu hal yang wajar, ya…., wajar juga dunk kalo akhirnya jadi semakin memanas kemudian terjadi perpisahan….!!!)

Ya…, memang jika konflik ini tidak dapat disikapi dengan arif dan kemudian naik ke-level yang lebih rumit, perpisahan sering digunakan sebagai jalan keluar. Namun…, apa itu menyelesaikan masalah…., sejatinya tidak. (lho…kok bisa, kan sudah berpisah, seharusnya masalahnya selesai juga dunk…!!)

Masalah yang tampak kepermukaan terlihat memang sudah selesai, namun bisa dipastikan, masalah yang sama akan kembali muncul pada pernikahan selanjutnya. Mengapa…, karena konflik pada setiap pernikahan esensinya adalah sama. konflik ini menjadi terlihat berbeda karena terjadi pada latar belakang pernikahan yang berbeda-beda, kondisi intelektual, emosional dan spiritual individu yang berbeda, dan yang paling fundamental adalah cara sikap dan memutuskan jalan keluar dalam menghadapi konflik, pada masing-masing pernikahan berbeda. (trus…, gimana dunk kalo semua beda-beda, kan jadi ga ada standar yang jelas dunk…!)

Jawabanya tentu ada. Ya…, ada standar atau pedoman yang bijak ketika konflik itu terjadi. -)

    1. Pertanyaan fundamental yang harus dijawab pada penikahan tersebut ialah: “Masih adakah cinta?” atau “Masihkah berkenan melanjutkan sampan pernikahan ini?”. Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur tanpa basa-basi. Jika jawabannya “TIDAK”, maka jelas, perpisahan selalu menjadi solusi yang pilihan. Jika jawabanya “YA”, kita masih memiliki harapan, sekarang tinggal bagaimana kita menyelesaikan permasalahan tersebut.
    2. Berbagai masalah yang dihadapi oleh setiap penikahan tentu bukan perkara mudah untuk menyelesaikannya. Mulai dari masalah sosial, finansial, tingkah laku, sampai dengan hal yang paling sensitif, yaitu perasaan. Pernikahan harus memiliki pandangan hidup, visi, dan peraturan. Diantara sejumlah hal-hal tersebut, telah terangkum dan tersusun dengan baik pada filosofi agama. Allah SWT. t’lah menurunkan Kitab Suci Al-Qur’an dan meridhoi Islam sebagai jalan hidup, termasuk kehidupan pernikahan. Ketika masing-masing individu s’pakat untuk menggunakan agama sebagai visi pernikahan, maka nilai benar dan salah punya tolak ukur yang jelas. Sehingga konflik tersebut dapat terdeteksi dengan baik dimana posisi yang harus diperbaiki.
    3. Ketika akar permassalah telah terdeteksi bukan berarti konflik otomatis selesai. Karena boleh jadi semakin meruncing kerena justifikasi yang tidak berimbang. Pendeteksian hanya untuk mencegah hal-hal ini terulang kembali dikemudian hari. Namun untuk mengikat kembali tali pernikahan yang telah sedikt terurai perlu langkah berikutnya, yaitu sabar dan ikhlas. Mengapa…, karna tentunya telah terjadi kekhilafan pada salah satu atau salah dua individu tersebut. Sangat diperlukan kesabaran dan keikhlasan untuk memaafkan satu sama lain. Sejatinya…, kesabaran dan keikhlasan bukan hal istimewa jika memang cinta itu masih ada. Dan justru sesuatu yang sangat mustahil “Cinta tanpa Kesabaran dan Keihklasan”.

Zona abu-abu salah satu sumber utama konflik dalam pernikahan. Dan jika kita mampu untuk mencegahnya, itu lebih baik tentunya. Manisnya cinta tentu dapat menghapus pahitnya perasaan yang tersakiti, namun mungkin perlu waktu yang tidak singkat. So…, be careful….

**Insyaallah…………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s